9:14 AM
0
Perjalanan awal seorang agropreneur (wirausahawan di bidang pertanian) tentu menghadapi sebuah daerah dengan sistem dan sumber daya manusia yang lebih dulu disana. Sehingga perlu memilih tindakan mana yang perlu dilakukan dan tidak perlu dilakukan. Menjadi agropreneur yang terjun di sektor pertanian secara teknis kita tidak perlu melakukan terlalu banyak rekayasa atau modifikasi. Hal yang lebih parah apalagi kita berlagak menggurui para petani itu. Hal ini karena pada dasarnya para petani telah lebih tahu cara (aturan main) yang berlaku pada petanian di masing-masing daerah. Sikap ini menjadi penting karena memang pada dasarnya mereka jauh lebih berpengalaman dalam teknik bertani yang sesuai di daerah mereka dibandingkan dengan kita sebagai orang lain yang baru datang ke daerah tersebut. Para petani asli daerah itu pasti telah pernah melakukan berbagai cara dan konsep dalam melaksanakan teknis pertanian mereka. Mereka telah lebih dahulu mendapat pengalaman dan menghadapi berbagai masalah serta solusi atas masalah itu.



Inovasi yang bisa kita terapkan di daerah tersebut harusnya inovasi yang belum mereka kenal, semisal optimasi panca usaha tani dan penerapannya. Telah banyak orang tahu konsep panca usaha tani, namun belum banyak para petani kita yang secara optimal menerapkannya dalam aktifitasnya di sawah, ladang maupun kebun. Secara umum panca usaha tani terdiri dari ;1. Pengolahan tanah (lahan) 2. Pemilihan benih dan bibit 3. Pengairan 4. Pemupukan dan 5. Pengendalian hama dan penyakit. Selain panca usaha tani, perlu benar-benar ditanamkan pada prinsip semua agropreneur bahwa peran panca usaha tani ini 99% dalam keberhasilan pertanian. Namun ada 1% yang sangat penting dan bahkan jika ini terlewatkan atau terabaikan bisa merusak 99% yang lain. 1% itu adalah kedekatan kita dengan Alloh 'azza wa jalla. Kedekatan ini jika dijabarkan akan sangat luas, namun secara umum dimaknai dengan ikhtiar kita dalam berdoa, membayar zakat, sedekah, silaturahim dan berbagai ibadah sunnah lainnya.

Tanah, tanah merupakan hal sangat penting dalam aktifitas pertanian sebagai media tanam. Kondisi tanah memegang peranan sangat besar dalam keberhasilan usaha pertanian. Tentunya kondisi di sini dikaitkan dengan nutrisi yang dibutuhkan tanaman ada di dalam tanah, sehingga pengetahuan dan ketrampilan seorang agropreneur dalam hal tanah merupakan kunci sebelum melaksanakan aktifitas lain. Ada beberapa kriteria tanah yang perlu dipahami, baik berdasarkan warna, tekstur maupun kadar keasaman (pH). Tanah yang subur secara umum berwarna coklat atau lebih baik lagi jika berwarna hitam, kedua warna ini menunjukkan kandungan zat hara (humus) dalam tanah itu yang cukup tinggi. Selain coklat dan hitam, ada tanah yang berwarna kuning. Tanah berwarna kuning biasanya merupakan ciri tanah dengan kandungan besi (fe) tinggi. Tanah kuning ini lebih sesuai untuk tanaman sawit, karet dan sejenisnya. Ada juga tanah berwarna putih, tanah ini biasanya juga berpasir kandungannya. Tanah jenis ini biasanya lebih cocok untuk tanaman kelapa, buah naga dan sejenisnya yang tidak membutuhkan nutrisi yang telalu tinggi.

Selain dari indikator warna juga perlu kita perhatikan tekstur dan kadar keasaman. Cara mengetahui tanah dengan tekstur baik (gembur), adalah dengan mengambil beberapa bagian tanah kering (biasanya di bawah pohon besar), lalu digenggam agak kencang. Jika tanah pecah, maka tanah tersebut tergolong tanah yang gembur. Tanah gembur juga berciri, tidak tersisa atau berbekas di tangan setelah kita genggam. Tanah dengan tekstur ini biasanya mengandung mikroba yang cukup atau di bawah banyak cacing yang membuatnya gembur. Indikasi banyak mikroba dan cacing merupakan penanda bahwa banyak kandungan nutrisi di tanah tersebut. Nutrisi inilah yang digunakan oleh mikroba dan cacing untuk hidup dan berkembang di dalam tanah.

Selanjutnya mengenai kadar keasaman tanah (pH). Tanah yang cocok untuk mayoritas tanaman memiliki kisaran pH di 5.5 - 6.5. Dikatakan mayoritas karena memang ada beberapa tanaman memiliki kebutuhan khusus dalam hal keasaman (silahkan cari dan pahami dulu karakter masing-masing tanaman sebelum ditanam). Cara sederhana untuk mengetahui tingkat keasaman tanah adalah dengan menggunakan kertas lakmus (bisa dicari di toko kimia). Ambil sedikit tanah (misal segenggam) sebagai sampel. Campurkan tanah tersebut dengan air dan diamkan selama kurang lebih 5 menit. Langkah terakhir adalah menguji larutan tersebut dengan kertas lakmus dan mencocokan warna yang dihasilkan dengan tabel yang ada. Di era modern ini juga telah ada alat ukur pH tanah yang canggih, namun untuk alat ini lumayan mahal (silahkan searching sendiri 'alat ukur pH tanah'). Selanjutnya jika diketahui tanah telah terlalu asam (pH < 5) maka yang perlu dilakukan adalah menebar kapur di atas tanah tersebut. Sebaliknya jika ditemui tanah terlalu basa (pH > 7) maka perlu dilakukan pengasaman dengan menebar belerang di tanah tersebut.

Kebanyakan tanah di Indonesia mengalami degradasi kualitas yang cukup memprihatinkan, namun tetap ada cara untuk memperbaiki kondisi tanah tersebut. Kondisi tanah yang kurang baik untuk ditanami (terutama persawahan padi) antara lain tanah menjadi keras, meski dibajak dengan traktor tanah tetap dangkal (tidak gembur lagi), tanah tidak bisa mempertahankan air cukup lama (sangat cepat meresap dan hilang), dan masih banyak lagi ciri tanah yang turun kualitas lainnya.

Kondisi tanah yang seperti tersebut tadi bisa diperbaiki dengan penggunaan pupuk organik dari kotoran hewan (kohe). Namun perlu diketahui di dalam kohe terdapat bakteri euceria colli (E. Colli) serta salmonella agata sehingga ketika hendak digunakan perlu dimatikan/ditekan populasinya terlebih dahulu. Salah satu cara untuk menekan pertumbuhannya adalah menambahkan bakteri lain dengan kemampuan pertumbuhan yang lebih cepat, produk yang ada dipasaran seperti StarDex, EM-4 atau EM-11 bisa digunakan. Di sisi lain juga bisa ditambahkan dengan pupuk organik dari air kencing (baik hewan mamalia atau lainnya). Namun ada catatan ketika menggunakan air kencing, kandungan amonia dan alkoholnya perlu dihilangkan terlebih dahulu dengan cara diuapkan (dipanaskan sinar matahari). Atau ketika sudah dipupukan ke tanah, bisa diuapkan dengan cara membolak balik tanah agar terkena sinar matahari dan udara bebas. Kebanyakan pupuk kimia mengandung alkohol tinggi karena dalam pembuatannya pada fase kristalisasi menggunakan alkohol. Masih ada cara lain untuk mengembalikan kondisi tanah yang terdegradasi seperti penggunaan humic acid yang bisa didapatkan di toko pertanian. Dosis yang tepat untuk penggunaan humic acid adalah 50kg humic acid untuk satu hektar lahan. Catatan tambahan dalam perbaikan kondisi lahan akibar terlalu jenuh dengan pupuk kimia terutama dengan penggunaan mikroba adalah menambahkan juga cadangan makanan untuk mikroba itu sendiri. Penggunaan gula, fluktosa, tepung dan bahan lain yang mengandung energi bisa menjadi opsi untuk digunakan.

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Recent Post