12:04 PM
0
2 Oktober 2013

Hari ini ditetapkan menjadi hari batik nasional, hampir di seluruh pelosok negeri ini menyemarakkannya dengan mengenakan batik. Namun mungkin belum banyak diantara kita yang memahami tentang batik itu sendiri. Mari sejenak kita baca beberapa tulisan yang sempat saya kumpulkan dari beberapa literatur tentang batik kita, ya BATIK KITA. Batik yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.



Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian.
Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal.

  • Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. 
  • Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Semisal batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait identitas Indonesia.

Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik". Meski dalam literatur tersebut batik berasal dari bahasa jawa, namun batik Indonesia tidak hanya ada dan berasal dari jawa saja. Indonesia memiliki keragaman budaya tentang batik sesuai dengan nama dan cirinya masing-masing. Dalam adat yang berlaku di berbagai daerah Indonesia, batik juga merupakan identitas dari suatu golongan, kominitas, suku dan sebagainya.

Perjalanan teknik batik di dunia membawa kita pada cara pandang yang cukup luas tentang batik. Karena pada dasarnya batik bukan hanya punya aspek historis di Indonesia. Tercatat ada sejarah yang menyebutkan tentang teknik dan karya kain yang semacam batik dari tiongkok, mesir kuno, India, Nigeria bahkan jazirah arab. Satu persatu mari kita coba ulas perjalanan cerita tentang batik itu.

Cerita tentang tekstil batik dari Niya (Cekungan Tarim), Tiongkok. Detail bentuk semacam ukiran kain yang pernah dikenalkan Prajnaparamita, terdapat sebuah arca yang berasal dari Jawa Timur yang disinyalir berasal dari abad ke-13. Ukiran pola lingkaran dipenuhi kembang dan sulur tanaman yang rumit ini mirip dengan pola batik tradisional Jawa. Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Di nusantara sendiri batik punya cerita yang unik. Meski batik berasal dari bahasa jawa, namun kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuno membuat batik. G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu. Ada juga cerita tentang detil ukiran kain yang menyerupai pola batik  yang dikenalkan oleh Prajnaparamita, pada penemuan arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur yang diperkirakan berasal dari abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting yang telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal dari itu.

Dari legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Oleh beberapa penafsir, serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Hugh Clifford merekam industri di Pekan tahun 1895 bagi menghasilkan batik, kain pelangi, dan kain telepok.

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", yang kemudian di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lebih lazim bagi kaum lelaki. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta, batik Cirebon bermotif mahluk laut dan berbagai motif lain yang menunjukkan kekayaan budaya bangsa ini.

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia (Jawa) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB. Batik dipakai untuk membungkus seluruh tubuh oleh penari Tari Bedhoyo Ketawang di keraton jawa.


Corak batik.

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh 'asing'. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun pada motif batik yang dibuat oleh orang-orang pesisir, motif tersebut mampu menyerap berbagai pengaruh luar, seperti dari para pedagang asing yang dulu berinteraksi di pelabuhan-pelabuhan nusantara dan juga pada akhirnya, budaya para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Pembuatan Batik

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Ragam budaya dan jenis batik nusantara

Menurut teknik
Dalam teknik pembuatan batik dikenal tiga teknik pembuatan yaitu:

  1. Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  2. Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
  3. Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.

Motif Batik
Terdapat beberapa motif umum batik yang beredar di sekitar kita antara lain,

  • Batik Tiga Negeri
  • Batik Jawa Hokokai, 1942-1945
  • Batik Buketan asal Pekalongan dengan desain pengaruh Eropa
  • Batik Buketan
  • Batik Lasem

Berdasarkan daerah asal
Ragam batik nusantara juga diperkaya dengan batik yang berasal dari berbagai asal yang berbeda, yang selanjutnya membawa nilai budaya yang berbeda pula. Daerah asal batik di nusantara dan negara luar antara lain :

  • Batik Bali
  • Batik Banyumas
  • Batik Madura
  • Batik Malang
  • Batik Pekalongan
  • Batik Solo
  • Batik Tasik
  • Batik Aceh
  • Batik Cirebon
  • Batik Jombang
  • Batik Banten
  • Batik Tulungagung
  • Batik Kediri
  • Batik Kudus
  • Batik Jepara / Batik Kartini
  • Batik Brebes
  • Batik Minangkabau
  • Batik Belanda
  • Batik Jepang

Berdasarkan corak
Batik juga dikenal dengan kekayaan motif yang menunjukkan identitas dari manakah dia dan bagaimana latar belakangnya, beberapa motif itu antara lain :

  • Batik Kraton
  • Batik Sudagaran
  • Batik Cuwiri
  • Batik Petani
  • Batik Tambal
  • Batik Sida Mukti
  • Batik Sekar Jagad
  • Batik Pringgondani
  • Batik Kawung
  • Batik Sida Luhur
  • Batik Sida Asih
  • Batik Semen Rama
Beberapa orang telah mengukirkan namanya sebagai orang yang dinilai berjasa dalam perkembangan dinamika batik nusantara, mereka antara lain :

  • Iwan Tirta
  • K.R.T. Hardjonagoro
  • Bagong Kussudiardjo
  • Eman Suparman
  • Ibu Sud
  • Tuty Cholid
  • Edward Hutabarat
Suatu saat jika kawan sekalian sempat bertemu dengan mereka, silahkan berdiskusi dan bercengkrama dengan hangat untuk membahas tentang batik.

Jika suatu ketika kawan-kawan sekalian ingin mengenal lebih dalam, mengenakan dan mungkin mengoleksi batik nusantara, silahkan kawan-kawan untuk bisa mampir di beberapa tempat berikut.
Pameran

  • Karnaval Batik Solo
  • Solo Batik Fashion
  • Putra Putri Batik Nusantara
Sentra

  • Kampung batik Laweyan
  • Kampung Batik Trusmi
  • Pasar Beringharjo
  • Pasar Kliwon, Surakarta
Museum

  • Museum Batik Yogyakarta
  • Museum Batik Danar Hadi
  • Museum Ullen Sentalu
Demikian sedikit tentang batik Indonesia dalam tulisan yang saya buat pada 2 Oktober 2013 dari beberapa literatur berikut.
Referensi

  • Doellah, H.Santosa. (2003). Batik : The Impact of Time and Environment, Solo : Danar Hadi. ISBN 979-97173-1-0
  • Elliott, Inger McCabe. (1984) Batik : fabled cloth of Java photographs, Brian Brake ; contributions, Paramita Abdurachman, Susan Blum, Iwan Tirta ; design, Kiyoshi Kanai. New York : Clarkson N. Potter Inc., ISBN 0-517-55155-1
  • Fraser-Lu, Sylvia.(1986) Indonesian batik : processes, patterns, and places Singapore : Oxford University Press. ISBN 0-19-582661-2
  • QuaChee & eM.K. (2005) Batik Inspirations: Featuring Top Batik Designers. ISBN 981-05-4447-2
  • Sir Thomas Stamford Raffles (1817) "History of Java", London
  • Iwan Tirta, Gareth L. Steen, Deborah M. Urso, Mario Alisjahbana, (1996) "Batik: a play of lights and shades, Volume 1", Indonesia : Gaya Favorit Press, ISBN 979-515-313-7, ISBN 978-979-515-313-9
  • Nadia Nava, Il batik - Ulissedizioni - 1991 ISBN 88-414-1016-7
  • SamuiBatik.com - Samui Batik (2010)

dan beberapa laiinya

Semoga memberi manfaat dan memperkaya ilmu kita. Bagi kita anak bangsa Indonesia, semoga ini mampu memupuk rasa bangga kita terlahir dari bangsa yang besar,bangsa yang kaya dan mampu menjadi pemimpin bangsa lain.
Silahkan di sebarkan ilmu ini agar memberi manfaat bagi yang lain ^_^

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Recent Post